Senin pagi, Adam berangkat sekolah lupa ngga bawa tas olahraga (sporttasche) yang berisi sepatu dan pakaian sport nya dia, padahal jadwal Sport hari ini. Begitu aku lihat masih tergeletak dilantai, langsung aku minta tolong suami untuk membawa serta tas nya, semoga bisa terkejar karena Adam harus naik bus ke sekolahnya, dan yang penting dia bisa ikut pelajaran olahraga disekolah.

Selasa pagi, kali ini Aira yang lupa ngga bawa sporttasche nya. Begitu Aira pamit berangkat sekolah, aku langsung ke dapur nyuci² piring, trus lanjut ngurus cucian baju di mesin cuci yang sudah selesai dan harus masuk ke mesin pengering, eh… pas lewat flur (koridor) lihat tas sport nya masih nyantol di garderobe. Liat jam eh udah jam 7:57, langsung deh cuci muka, ganti celana jeans, pake kerudung, pake jaket, pake sarung tangan, pake sepatu, ambil kunci dan tas sport nya Aira, langsung gowes menerobos hujan es dan angin. Alhamdulillah, terkejar juga, nyampe sekolahnya Aira, liat anak² lagi berbaris dihalaman sekolah hendak menuju ke arah Halle. Aira langsung lari ke arahku dan mengambil tas sport nya sambil berucap terimakasih. Aku langsung gowes balik ke rumah. Lumayan ngos²an, hehehe…

Boaaa…. nyampe rumah baru kerasa dingin banget, pipi berasa kaku kayak pake masker es (emang pernah? lebay!).
Astaghfirulloh…hektik bener pagi² :D

Dari hasil test alergi, ternyata aku alergi sama Roggen (rye), disamping macam² alergi yang lain. Dari Hausarzt mentransfer aku untuk ke dokter spesialis paru², tapi sampe sekarang belum aku lakukan, karena aku pikir aku sudah tau kenapa mengapa nya aku berasa sesak didada. Dari hasil membaca beberapa artikel ternyata pisang juga bisa menyebabkan sakit sesak didada (bagi yang alergi) hanya saja reaksinya ngga langsung, tapi beberapa jam setelah memakannya. Mungkin itu juga yang menyebabkan aku waktu itu tambah sesak didada atau bisa disebut Atemnot dalam bahasa Jermannya. Okay, jadi aku harus sebisa mungkin menghindari makanan terutama jenis roti²an yang mengandung roggen, juga mencoba tidak memakan pisang.

……

Ealah… entah kenapa aku ingin banget makan pisang! Pokoknya nafsu banget pengen makan buah satu ini! (mulai tergoda, dan mulai diuji). Dibelilah pisang 3 biji. Pagi itu aku sarapan pisang, juga tak lupa ngopi, dan sore nya aku juga makan pisang satu lagi. Nah, dari sore ke malam aku mulai berasa ngga enak didada, mulai berasa sesak didada, sakit, bahkan serasa keseluruh badan. Pulang kerja cerita ke suami, tapi dicuekin. Bertahan…bertahan…! Tidur, sampai beberapa kali terbangun karena dada yang sakit nya datang dan pergi. Ini yang parah²nya berlangsung sampai 4 hari. Mau ke dokter… tapi…hmmm… !§/&(/%%&%$%&$&… (baca: males)

Waktu nelpon Mama ku di Indo, sempet cerita ke Mama ku soal sakit didada ini. Mama ku menyarankan untuk berhenti minum kopi, hehehe… Beliau sempet nanya juga apa ada yang mengganjal dipikiranku? Hahaha… banyak atuh! Tapi yang terakhir ini memang sangat mengganjal banget, dan susah buat aku maafin karena menyangkut Aqidah! You know lah…
Ya udah, nyoba untuk mengikhlaskan semuanya ditangan Allah aja dan semoga dia diberi hidayah, amin.

Sakit didada ini sampai sekarang masih, kadang² datang begitu saja, dan kadang juga nafas ku tiba² terasa terhenti menyusul rasa sakit didada. Tarik nafas terdalam sambil berucap… Astaghfirullohal’adzim… I seek forgiveness from Allah the Almighty, gitu aja dah pokoknya!

Sekarang sudah mencoba berhenti minum kopi, mencoba tidur sebelum jam 10 malem, oh ya… sekarang ngga bisa makan banyak, makan dikit aja sudah berasa kenyang banget :D

Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku. Dan yang akan mematikan aku, kemudian akan menghidupkan aku (kembali). Dan yang sangat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari kiamat. (Asy-Syura’: 80-82).

Adam, putra kami yang lahir tahun 2004, dia berkewarganegaraan ganda, Jerman dan Indonesia. Waktu lahir, ketika suami mengurus surat kelahiran di Standesamt (kantor catatan sipil Jerman) Adam sudah tercatat sebagai warga negara Jerman. Karena status suamiku yang sudah bebas visa disini meski pun suami sampai detik ini masih WNI, Adam terlahir otomatis sebagai WN Jerman. Sebenarnya kita tidak menginginkan Adam masuk menjadi WN Jerman, ini karena hukum disini yang mengatur akan hal tersebut. So, Adam tetap kita daftarkan di KJRI sebagai WNI, dia punya surat kelahiran dan paspor Indonesia yang dikeluarkan oleh KJRI di Frankfurt. Alhamdulillah.

Dari pasport pertama, pasport anak, sebelumnya dia masuk ke dalam pasport ibu, yaitu pasport saya. Ketika itu kita masih ‘eyel²an’ sama Standesamt sini kalau Adam tetap didaftarkan jadi WNI, karena status hukumnya juga demikian, anak yang lahir dari ayah dan ibu WNI, maka anak juga WNI. Akhirnya dari pihak Kreisverwaltung (District Administrative) sini ngalah, Adam mendapatkan visum dipasport pertamanya.

Tahun 2012, sampailah masa berlaku pasport Indonesia pertama Adam habis, dan harus mengajukan pasport baru di KJRI, lagi²…bermasalah lagi di Kreisverwaltung yang tidak mau memindahkan visum ke pasport yang baru, juga dari Standesamt ikut mengukuhkan Adam adalah WN Jerman, tidak perlu visum (visa). Titik! Tidak bisa ditawar lagi!

Waktu itu sih dengar²… Indonesia sudah mengeluarkan UU Dwikewarganegaraan anak. Jadi, karena suatu urusan mendesak kita mengajukan Pasport Jerman untuk Adam di Verbandsgemeinde sini. (Sebagai catatan saja yah, kalau WNI mengajukan pasport negara asing maka dia kehilanganan kewarganegaraan Indonesianya). Entah ini saran dari siapa, kami lupa, jadi untuk masuk ke Indonesia di Imigrasi Adam pake pasport Indonesia, kembali ke Jerman di Imigrasi dia pake pasport Jerman.

And, thats wrong! Mengikuti prosedurnya sebaiknya menggunakan satu pasport, pesan Bapak Atase Imigrasi KBRI di Berlin sewaktu kami berkonsultasi. Iyah, waktu itu kita mengikuti seminar Kewarganegaraan yang diselenggarakan oleh Masjid Indonesia Frankfurt. Alhamdulillah, bermanfaat sekali. Kita jadi banyak tahu loh tentang UU No. 12 tahun 2006 tentang Dwi Kewarganegaraan Anak (Sementara), atau kita sebut saja Affidavit.

UU nya Tahun 2006 loh, sementara Adam mengajukan pasport Indonesia yang baru nya tahun 2012, dan KJRI ngga kasi info apa², apa kita sendiri yang kurang info, atau sosialisasi nya yang kurang? Anggap saja kita yang kuper… hehehe

Singkat cerita, kita, tahun ini 2016 mengajukan pasport Indonesia baru untuk Adam, sekaligus mengajukan Affidavit ini, meski sebelumnya dari pihak KJRI mengatakan kalau Adam sudah kehilangan WN Indonesia nya. Tapi dari Atase Imigrasi KBRI Berlin mengatakan kalau masih bisa alias masih ada kesempatan untuk Adam mendapatkan Affidavit. Tanggal 17. Oktober 2016, saya berangkat ke KJRI dengan dokumen² yang lengkap lengkip dan Adam mendapatkan Affidavit. Alhamdulillah…

Alhamdulillah, hak mu sudah tertunaikan anakku… sampai usia 18 – 21 tahun nanti kau boleh memilih warga negara Indonesia atau Jerman sesuai hati nuranimu, kita tidak memberatkan insyaAllah…

PS. Anak yang lahir dari mix-national marriage aka kawin campur, atau sesama WNI tapi karena hukum yang mengakibatkan anak yang lahir tersebut sebagai WN asing (seperti kasus kami), setelah UU No. 12 tahun 2006 dikeluarkan, insyaAllah anak tersebut otomatis mendapatkan Affidavit, biasanya dipasport akan tertera UU No. 12 tahun 2006 tersebut atau mungkin ditempat lain berupa kartu Affidavit. So, don’t worry!

Ini cuma secuil ‘kasus’ kisah kami saja :)

Note.
Affidavit: A written statement of facts made under an oath. This is a letter notifying for temporary dual citizenship of Indonesia. Indonesian nationality law does not recognize dual citizenship except for under 18 years old children of a lawful mix-national marriage of their parents.