Adam

Adam Ananta Rukma
100 articles in category Adam / Subscribe

Adam, putra kami yang lahir tahun 2004, dia berkewarganegaraan ganda, Jerman dan Indonesia. Waktu lahir, ketika suami mengurus surat kelahiran di Standesamt (kantor catatan sipil Jerman) Adam sudah tercatat sebagai warga negara Jerman. Karena status suamiku yang sudah bebas visa disini meski pun suami sampai detik ini masih WNI, Adam terlahir otomatis sebagai WN Jerman. Sebenarnya kita tidak menginginkan Adam masuk menjadi WN Jerman, ini karena hukum disini yang mengatur akan hal tersebut. So, Adam tetap kita daftarkan di KJRI sebagai WNI, dia punya surat kelahiran dan paspor Indonesia yang dikeluarkan oleh KJRI di Frankfurt. Alhamdulillah.

Dari pasport pertama, pasport anak, sebelumnya dia masuk ke dalam pasport ibu, yaitu pasport saya. Ketika itu kita masih ‘eyel²an’ sama Standesamt sini kalau Adam tetap didaftarkan jadi WNI, karena status hukumnya juga demikian, anak yang lahir dari ayah dan ibu WNI, maka anak juga WNI. Akhirnya dari pihak Kreisverwaltung (District Administrative) sini ngalah, Adam mendapatkan visum dipasport pertamanya.

Tahun 2012, sampailah masa berlaku pasport Indonesia pertama Adam habis, dan harus mengajukan pasport baru di KJRI, lagi²…bermasalah lagi di Kreisverwaltung yang tidak mau memindahkan visum ke pasport yang baru, juga dari Standesamt ikut mengukuhkan Adam adalah WN Jerman, tidak perlu visum (visa). Titik! Tidak bisa ditawar lagi!

Waktu itu sih dengar²… Indonesia sudah mengeluarkan UU Dwikewarganegaraan anak. Jadi, karena suatu urusan mendesak kita mengajukan Pasport Jerman untuk Adam di Verbandsgemeinde sini. (Sebagai catatan saja yah, kalau WNI mengajukan pasport negara asing maka dia kehilanganan kewarganegaraan Indonesianya). Entah ini saran dari siapa, kami lupa, jadi untuk masuk ke Indonesia di Imigrasi Adam pake pasport Indonesia, kembali ke Jerman di Imigrasi dia pake pasport Jerman.

And, thats wrong! Mengikuti prosedurnya sebaiknya menggunakan satu pasport, pesan Bapak Atase Imigrasi KBRI di Berlin sewaktu kami berkonsultasi. Iyah, waktu itu kita mengikuti seminar Kewarganegaraan yang diselenggarakan oleh Masjid Indonesia Frankfurt. Alhamdulillah, bermanfaat sekali. Kita jadi banyak tahu loh tentang UU No. 12 tahun 2006 tentang Dwi Kewarganegaraan Anak (Sementara), atau kita sebut saja Affidavit.

UU nya Tahun 2006 loh, sementara Adam mengajukan pasport Indonesia yang baru nya tahun 2012, dan KJRI ngga kasi info apa², apa kita sendiri yang kurang info, atau sosialisasi nya yang kurang? Anggap saja kita yang kuper… hehehe

Singkat cerita, kita, tahun ini 2016 mengajukan pasport Indonesia baru untuk Adam, sekaligus mengajukan Affidavit ini, meski sebelumnya dari pihak KJRI mengatakan kalau Adam sudah kehilangan WN Indonesia nya. Tapi dari Atase Imigrasi KBRI Berlin mengatakan kalau masih bisa alias masih ada kesempatan untuk Adam mendapatkan Affidavit. Tanggal 17. Oktober 2016, saya berangkat ke KJRI dengan dokumen² yang lengkap lengkip dan Adam mendapatkan Affidavit. Alhamdulillah…

Alhamdulillah, hak mu sudah tertunaikan anakku… sampai usia 18 – 21 tahun nanti kau boleh memilih warga negara Indonesia atau Jerman sesuai hati nuranimu, kita tidak memberatkan insyaAllah…

PS. Anak yang lahir dari mix-national marriage aka kawin campur, atau sesama WNI tapi karena hukum yang mengakibatkan anak yang lahir tersebut sebagai WN asing (seperti kasus kami), setelah UU No. 12 tahun 2006 dikeluarkan, insyaAllah anak tersebut otomatis mendapatkan Affidavit, biasanya dipasport akan tertera UU No. 12 tahun 2006 tersebut atau mungkin ditempat lain berupa kartu Affidavit. So, don’t worry!

Ini cuma secuil ‘kasus’ kisah kami saja :)

Note.
Affidavit: A written statement of facts made under an oath. This is a letter notifying for temporary dual citizenship of Indonesia. Indonesian nationality law does not recognize dual citizenship except for under 18 years old children of a lawful mix-national marriage of their parents.

Kalo pulang kerja [malem], masih harus ngurusin dapur, rasanya capeee banget, belum lagi Adam kalau mau tidur sukanya minta dibacain buku sama MAMA nya, cuma sama MAMA nya, tidak mau sama Papa nya. Demi anak… Mama nya harus membacakan buku cerita sampai mulut berbusa, karena lebih sering Adam meminta tambahan halaman agar Mama nya lebih lama membacanya, plus menjawab pertanyaan² yang sering Adam lontarkan dari isi ceritanya.

Waktu ada pertemuan guru, murid dan orang tua, disitu guru nya Adam bilang kalau Adam sangat suka membacakan buku, kalau dari penilaian gurunya ‘sehr gut’ (sangat bagus). Mama nya langsung happy banget ;)) Adam juga sempet menyesal karena beberapa waktu lalu tidak ikut ‘Lesewettbewerb’ [kompetisi membaca], alasannya karena Adam tidak percaya diri. Mama nya agak kecewa waktu itu, dan berusaha membangun kepercayaan dalam diri Adam. Dan alhamdulillah, Adam bilang kalo ada ‘Lesewettbewerb’ lagi Adam in shaa Allah mau ikut ;)

Satu lagi, hasil raport semester ini Adam mendapat nilai rata² ‘2’, GUT [bagus]. Thumbs up!